Home » , , » Dampak Kampanye Terhadap Perolehan Suara Pada Pemilihan Umum Kepala Daerah Kota ……… Periode 2009 -2014 (IPM-20)

Dampak Kampanye Terhadap Perolehan Suara Pada Pemilihan Umum Kepala Daerah Kota ……… Periode 2009 -2014 (IPM-20)

Written By mediana saputra on Tuesday, 26 February 2013 | 02:26



Perubahan sistem politik dari orde baru ke orde reformasi saat ini secara langsung membawa perubahan besar dalam kehidupan perpolitikan di Indonesia yang semakin kian terbuka dan transparan.Setelah orde baru tumbang, kini Indonesia secara dramatis telah melangkah ke tahapan institusionalisasi demokrasi, perubahan-perubahan penting telah banyak terjadi seperti dari segi pranata, legal dan institusional.Kita telah melaksanakan pemilu legislatif dan pemilihan presiden secara langsung, suatu ritual demokrasi dimana partisipasi rakyat dibutuhkan dapat diinstitusinalisasi secara berkala dan regular.
Kini partai dibebaskan untuk berdiri, dimana liberalisasi politik berpuncak pada multi partai yang luar biasa besar dan banyaknya.Kondisi ini dapat pula dikatakan sebagai point of return. Sejauh kita bertekad untuk meneruskan mekanisme politik secara legal dan konstitusional, maka undang-undang dasar 1945 menjamin proses itu berlangsung terus menerus.
Pemilihan umum adalah sesuatu hal yang sangat penting dalam kehidupankenegaraan.Pemilihan umum adalah jelmaan sistem demokrasi.Melalui pemilihan umum pula rakyat memilih wakilnya untuk duduk dalam parlemen dan struktur pemerintahan.Sistem pemilihan di Indonesia sendiri juga berlaku dengan menggunakan hak rakyat untuk memilih presiden hingga kepala daerah yang dimana semua itu telah kita laksanakan delapan tahun lalu.

Pemilihan umum sejatinya harus menjadi penyalur aspirasi masyarakat wajib pilih untuk menentukan siapa pemimpin yang dipercayainya bisa membawa aspirasi dan harapan mereka yang lebih baik di masa akan datang. Adapun pemilu yang berkualitas baik dapat diukur dari tingkat partisipasi pemilih dan rendahnya golput.

Fenomena kampanye yang disajikan oleh para kandidat Walikota dan Wakil Walikota Makassar pada pemilukada beberapa waktu lalu dan bagaimana dengan keadaan dan suhu politik jelang diadakannya perhelatan pemilukada ini. Sebelum menjawab semua itu, kiranya tidak ada salahnya jikalau penulis mencantumkan nama, nomor urut dan dan gagasan utama yang menjadi visi dan misi dari para kandidat. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa pemilukada ini diikuti oleh tujuh pasang kandidat yang dimana kesemuanya datang dari berlatar belakang profesi dan tingkat pendidikan yang berbeda-beda. Pada urutan pertama, ditempati oleh pasangan incumbent yakni Ilham Arief Sirajuddin dan Supomo Guntur.Kandidat yang memiliki singkatan IASmo ini memiliki gagasan pemikiran IASmo "BEBAS" yang diteruskan dengan penambahan kata dari "LAHIR sampai MATI". Kandidat ini juga diramalkan akan kembali memimpin kota Makassar untuk periode kedua kalinya. Di urutan kedua, ditempati oleh pasangan Idris Manggabarani dan Adil Patu. Kandidat ini memiliki singkatan nama IDIAL, pasangan yang berlatar belakang pengusaha dan akademisi ini memiliki gagasan pemikiran yang "MURAH dan GRATIS", dimana gagasan ini lebih mengedepankan hak dan jaminan kehidupan yang layak bagi rakyat kecil.

Selanjutnya, diurutan ketiga ditempati oleh pasangan Halim Abdul Razak dan Jafar Sodding.Kandidat ini juga memiliki panggilan khusus yakni Mantap Mentong, gagasan pemikiran kandidat ini terletak pada aturan Religi (keagamaan).Adapun pasangan nomor urut empat ditempati oleh Ridwan Musagani dan Irwan Paturussi.Sama halnya dengan pasangan nomor urut tiga, pasangan ini juga lebih mengedepankan keagamaan dalam pemerintahannya.Diurutan kelima ditempati oleh Firmansyah Mappasawang dan Kasma F. Arifin.Pasangan yang maju lewat jalur perseorangan ini juga memiliki gagasan pemikiran yang tidak jauh berbeda dengan kedua pasangan lainnya, Halim - Jafar dan Ridwan - Irwan, yang sama-sama mengedepankan keagamaan.Diurutan keenam, ditempati oleh pasangan Iriantosyah Kasim dan Razak Djalle.Gagasan pemikiran pasangan ini yakni keadilan untuk rakyat.Diurutan terakhir (nomor tujuh), ditempati oleh pasangan Ilham Alim Bachrie dan Herman Handoko. Seperti keenam pasangan lainnya, pasangan ini juga memiliki panggilan khusus yakni IDOLA, dimana gagasan pemikiran dari pasangan ini ialah kemaritiman, karena menurut pasangan ini Makassar merupakan kota maritime sehingga aspek kemaritimannya harus diutamakan dalam membangun kota Makassar.
Fenomena dan keadaan suhu politik jelang diadakannya pemilukada ini, yang paling nampak di permukaan adalah "adu strategi" yang dilakukan oleh masing-masing kandidat.Dimana masing-masing kandidat memiliki strategi tersendiri guna meraih simpati para pemilih.Adu strategi yang dimaksudkandisini dapat diartikan sebagai suatu persaingan melalui berbagai media komunikasi yang ada, baik cetak maupun elektronik.
Penggunaan media massa bagi kampanye oleh para kandidat tentu memiliki segmentasi tersendiri. Mengenal khalayak atau masyarakat adalah salah satu kunci sukses untuk memenangkan persaingan.Dengan menyajikan produk politik yang menarik mulai dari kemasan, isi dan tampilan yang baik, serta mempunyai intesitas menonton lebih banyak sehingga masyarakat mampu terpengaruh dan melakukan tindak memilih kandidat.
Sasaran utama dari kampanye yakni masyarakat yang memiliki hak pilih. Keikutsertaan pemilih dalam mengikuti kampanye di media massadiharapkan dapat menumbuhkan dan meningkatkan pengetahuan dan sikap positif terhadap pelaksanaan pemilukada yang dilaksanakan.
Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa kampanye yang menjadi agenda media massa dapat memberikan sumbangan terhadap partisipasi politik, apalagi pesan yang disampaikan memperhatikan kriteria efektifitas. Semakin efektif cara penyajian pesan, akan semakin mudah pula pesan itu diterima dan dipahami oleh khalayak.
Uraian di atas menggambarkan pula bahwa perhatian terhadap kampanye melalui media massa memiliki peranan yang penting dalam mencapai efektifitas pesan komunikasi yang disampaikan, sebab sebaik apapun suatu pesan atau informasi yang dikemas dan disajikan dengan menggunakan berbagai media, namun belum dapat menarik atau mempengaruhi perhatiankhalayak, maka kegiatan komunikasi tersebut tidaklah mempunyai efektifitas terhadap khalayak.

Adapun sebagai dasar pertimbangan dari pemilihan judul ini dan berdasarkan hasil rekapitulasi perhitungan suara yang dilakukan oleh KPU kota Makassar terkait pemilukada lalu, maka penulis ingin melihat apakah berdasarkan perolehan suara tersebut, sebuah proses komunikasi yang menggunakan media perantara sangat efisien dalam meraih simpati khalayak dan berpengaruh besar terhadap perolehan suara pada pemilukada.
Hasil Perhitungan Suara KPU Kota Makassar Tahun 2008

NO
TAG
SUARA
PERSENTASE
1.
IASmo
370.912
67,06%
2.
IDIAL
102.241
18,48%
3.
HALIM – JAFAR
37.507
6,78%
4.
RI
11.885
2,15%
5.
PASMI
13.509
2,44%
6.
IKRAR
12.950
2,34%
7.
IDOLA
4.107
0,74%
TOTAL
553.111
100%
                                         Sumber : KPU Kota Makassar, 2008
Berdasarkan pemaparan diatas dan basil perhitungan suara pada pemilukada lalu, maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan memanfaatkan momen pemilihan Walikota Makassar periode 2009-2014 dengan mengangkat sebuah judul "DAMPAK KAMPANYE TERHADAP PEROLEHAN SUARA PADA PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH KOTA MAKASSAR PERIODE 2009 - 2014".

Share this article :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Turorial Grapich Design and Blog Design - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger